MEKARNYA LAYAR

Di tengah pandemi yang belum usai ini hidup kita kian bergantung pada layar.  Penjarakan fisik dan sosial telah memaksa kita berkomunikasi lewat layar ponsel atau laptop kita. Layar di gadget kita menjadi tempat menonton film saat bioskop ditutup.

Kunjungan ke festival film dan perhelatan kesenian hanya bisa kita lakukan lewat gadget. Layar telah menggantikan kemeriahan festival film dan kesemarakan pameran seni di masa pandemi.

Sejatinya layar telah menjadi keseharian kita. Umpamanya, layar GPS memandu perjalanan kita dan membantu menemukan alamat. Polisi atau petugas keamanan menggunakan layar monitor yang terhubung kamera pemantau (CCTV) untuk mengawasi dan memantau situasi keamanan.

Di jagat seni dan media, layar punya tempat yang penting. Pertunjukan teater menggunakan layar sebagai latar sekaligus penanda transisi adegan. Film acap disebut “layar lebar” karena memproyeksikan gambar bergerak ke atas layar. Begitu pula, kita hanya bisa menikmati acara televisi melalui layar.

Karena itu, layar tak hanya menjadi tempat memproyeksikan gambar (images), tapi bagian dari pengalaman kita. Bahkan, layar ikut membentuk cara kita memaknai realitas. Lewat bidang persegi empat itu, realitas mengalami pembingkaian. Akibatnya, apa yang ada di luar layar kerap luput dari perhatian kita.

Membabar layar

Layar kadangkala kita kutuk karena membuang waktu dan mengalihkan perhatian kita dari perkara yang lebih penting. Sebaliknya, layar kita puja sebagai perangkat yang memungkinkan kita melakukan banyak hal yang muskil kita lakukan tanpanya.

Alih-alih memenjarakan kita, layar justru mengintensifkan persebaran pengetahuan. Setiap tahun tak kurang setengah triliun foto diunggah ke internet, 200 juta jam video diunggah ke kanal YouTube dan miliaran halaman teks ada di situs seantero dunia.

Akan tetapi, layar antarmuka juga bisa menjadi titik masuk yang menjangkau kita.  Ia melacak, menguantifikasi, dan mengomodifikasi keberadaan kita. Di sini layar berubah menjadi perangkat pengawasan dan kontrol. Ia seperti menguntit ke mana pun langkah kita mengayun. Lantas, mengolahnya menjadi data yang layak dijual ke pengiklan.

Selama ini, layar dipahami dengan dua metafora: tembok dan jendela.  Sebagai tembok, layar bersifat membatasi. Bidang layar persegi empat menjadi tempat yang membatasi penglihatan kita. Inilah metafora layar yang paling banyak kita kenal. Sebaliknya, sebagai jendela, layar mengajak kita menjelajahi dunia virtual atau fantasi nyaris tak bertepi.

Ada pula metafora layar lainnya: cermin. Di sini layar seakan memantulkan realitas maupun keberadaan kita. Sebagai cermin, layar mendorong kita berkontemplasi. Lewat layar, kian kita sadari makna keberadaan kita.

Sementara itu, ada beraneka fungsi layar. Layar bisa berfungsi sebagai papan yang berisi deretan instruksi untuk melakukan sesuatu. Ia memandu apa yang mesti kita lakukan. Selain itu, layar berfungsi sebagai buku kolase tempat menyusun foto, teks, dan komentar yang berasal dari pelbagai sumber seturut keinginan kita. Inilah yang acap dilakukan orang pada blog atau media sosial.

Kerap kita temui pula layar berfungsi sebagai ruang pajang (display). Di sini layar menjadikan banyak hal aksesibel kendati ada kendala ruang dan jarak. Layar menjadikan image hadir di hadapan kita.

Tentu, layar terus berkembang yang dipengaruhi banyak hal. Pertama, peningkatan eksponensial bentuk dan penggunaan layar. Kedua, perkembangan multiple images dalam satu layer, yakni kian banyaknya windows dan layers dalam satu layar. Ketiga, di samping proliferasi bentuk maupun frame layar, berkembang pula layar sentuh serta mobile yang mengubah secara mendasar cara kita berinteraksi dengan layar sebagai objek fisik.

Seni dan layar

Di kancah seni, terutama seni media baru, layar menjadi ruang bagi eksplorasi artistik dan sumber penciptaan. Simaklah pameran daring bertajuk “Manifesto #VII: Pandemi” yang digelar Galeri Nasional tahun lalu. Pameran ini menunjukkan betapa esensialnya posisi layar.

Pameran Daring "Manifesto #7: Pandemi" oleh Galeri Nasional
Pameran Daring “Manifesto #7: Pandemi” oleh Galeri Nasional

Penonton pameran itu hanya bisa menikmati karya karena diperantai layar. Umumnya  fungsi layar dalam pameran itu sebagai ruang memajang karya para seniman yang dibuat di tempat yang berbeda dengan penonton.  Ada pula seniman yang memfungsikan layar sebagai buku kolase beragam image dan monitor untuk melongok tempat lain dengan mengontruksi lanskap planet di luar Bumi.

Sementara itu, dalam seni video mapping (proyeksi video) layar adalah fasad bangunan dengan segenap teksturnya.  Tak aneh, jika seni proyeksi video menjadi cara mendorong apresiasi terhadap bangunan bersejarah karena melahirkan pengalaman baru.

Inilah yang dilakukan oleh festival proyeksi video bertajuk “Sumonar” di Yogyakarta yang mengubah fasad gedung Bank Indonesia sebagai layar raksasa untuk memproyeksikan berbagai konten video.

"Sumonar" festival video mapping/ projection di Yogyakarta Agustus 2020
“Sumonar” festival video mapping/projection di Yogyakarta Agustus 2020

Di sejumlah kota besar dunia, layar menjadi bagian organik fasad bangunan itu sendiri yang tak jarang memiliki  narasi. Di sini layar ikut membentuk lingkungan dan seni urban.

Harus diakui, layar sesungguhnya menghadapi tantangan. Munculnya seni yang berbasiskan pada realitas virtual (VR) tak lagi memerlukan layar. Perangkat VR yang mirip kacamata itu memungkinan image langsung memasuki medan penglihatan kita.

Penikmat seni VR tak lagi menjumpai layar persegi empat dengan permukaan yang datar dari jarak tertentu—sebuah “jendela” yang membawa ke dunia lain.  Di titik ini, ruang virtual melampaui ruang nyata. Pendeknya, frontalitas, permukaan segi empat dan perbedaan skala yang selama ini melekat pada layar menghilang.

Meski demikian, hingga kini layar masih tetap hadir dengan segenap bentuknya dalam keseharian kita. Seiring gerak teknologi, layar senantiasa mengalami metamorfosis. Kita bakal terus beradaptasi dengannya. Layar mungkin bakal terus kita tenteng ke mana-mana dan tatap setiap saat.

Demikianlah, layar telah menjadi keniscayaan. Tak perlu kita mengutuk kehadirannya yang kian merasuki kehidupan kita. Yang diperlukan: sikap menolak kecanduan layar. Alih-alih, kita bisa memanfatkan layar sebagai sumber pengetahuan maupun ekspresi artistik.


Tulisan ini pernah dimuat di Harian KOMPAS, edisi 31 Januari 2021

Sumber foto header: twitter Pemda DIY

(Visited 64 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *